“Aku terpejam dalam lamunan malam, tapi cahaya itu selalu ada entah dalam mimpi atau pun kenyataan”.“Dinda, kaukah itu?”
“Iya Jef, ini aku, Dinda…”
“Ke mana saja kamu selama ini, aku mencarimu…,” ucapku dengan mimik khawatir padanya.
“Aku tidak ke mana-mana kok, aku sedang menunggumu juga di sini.” Dia tersenyum lalu kemudian pergi dan hilang entah ke mana.
♥♥♥
Setahun yang lalu.Pagi yang cerah saat aku terbangun dengan posisi mata yang masih menahan kantuk, dan mentari pagi yang indah ini tak akan pernah aku lewatkan. Kemudian aku pun bergegas menuju jendela kamarku untuk melihat pemandangan alam yang indah ini, pemandangan yang tercipta karena Kuasa Tuhan. Begitulah setiap hari yang aku lakukan, kala aku terbangun dari setiap mimpi malamku.
Hari itu, entah mengapa aku seperti tidak ingin melupakan tanggal yang tertera pada kalenderku, tepat pada tanggal 28 Februari 2012. Hari itu aku sedang mempersiapkan diri untuk janji yang sudah aku buat pada kekasihku, Dinda. Aku sudah berjanji untuk mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat yang indah. Aku sudah merencanakannya sejak 1 bulan lalu, aku sudah mempersiapkan segalanya hanya untuk dirinya, kekasih yang sangat kucintai selama ini. Hari itu adalah hari aku ingin melamarnya sebagai seorang kekasih.
“Ahhh.. Aku sudah tidak sabar untuk hari ini, tapi aku juga masih deg-degan untuk melakukannya. Tuhan, beri aku kekuatan untuk tugas mulia ini.”Ucapku dalam hati.
“Wah... sudah pukul 06.30, sepertinya aku harus bergegas untuk segera ke kantor sekaligus nanti ke Cafe D’Canoe untuk mempersiapkan segalanya, nih,” ucapku sembari mengingatkan diri sendiri.
Selepas mandi, aku langsung bergegas membenahi diri sekaligus sarapan bersama keluarga. Aku juga sengaja tidak memberitahu kepada keluargaku tentang rencana ini, jadi ketika aku sarapan pagi bersama mereka, tidak ada perbincangan tentang lamaran ini. Sarapan pagi itu aku lewati seperti hari–hari biasa sebelumnya. Bi’ Sumi pembantuku sudah mempersiapkan sarapan kali ini sejak lepas subuh tadi. Ya, Bi’ Sumi adalah pembantu yang memang rajin sekali, kami sekeluarga sudah menganggapnya keluarga. Bahkan, ketika kami liburan, tak jarang Bi’ Sumi kami ajak ikut bersama. Selepas sarapan pagi, aku pun pamit kepada kedua orang tuaku untuk berangkat kerja, ritual pagi yang sakral, karena menurutku itu adalah salah satu bentuk dari doa kedua orangtua.
Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 06.50, aku pun segera bergegas karena pagi ini ada janji pada pemilik Cafe D’Canoe untuk mempersiapkan segalanya. Cafe D’Canoe tempat favoritku sebelum ada Dinda dalam hidupku, dan ketika Dinda sudah memasuki kehidupanku, tempat ini menjadi cafe favorit kita berdua. Cafe ini memang tidak sebesar cafe–cafe lain pada umumnya, tetapi penyajian dan juga interiornya sangat memuaskan bagi para pengunjung yang sudah pernah ke sana. Mulai dari pelayanannya yang ramah dan tanggap pada sesuatu, interior yang bergaya seperti nuansa alami ala zaman dulu, tetapi tidak menghilangkan kesan modern yang ada di dalamnya. Jadi, suasananya memang mendukung sekali untuk pasangan muda–mudi yang ingin menghabiskan waktu berdua. Apalagi dengan cahaya temaram lampion yang menerangi di setiap sudut cafe dengan warna kecokelatan.
Segera kupacu mobilku melewati hiruk–pikuk jalanan ibu kota. Jam menunjukkan pukul 07.25, dan untunglah aku tiba tepat waktu. Kebetulan tempatnya pun tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi hanya dalam waktu sekitar setengah jam lebih aku bisa tiba di sana. Kemudian aku turun dan segera masuk ke dalam cafe itu dan langsung menemui manajernya. Kebetulan, pemilik atau manajer café D’Canoe ini adalah teman lamaku di SMA, jadi akses untuk mendapatkan izin menggunakan tempatnya tidaklah terlalu sulit.
“Selamat pagi, kawan…,” sapaku.
“Pagi juga, kawan.…”
“Bagaimana tentang rencanaku kemarin?”
“Tenang kawan, semuanya sudah diatur, kok.” Ucapnya tersenyum kepadaku, menunjukkan rasa senang karena melihat temannya sendiri akan melakukan sesuatu yang berarti.
Setelah berbincang–bincang dengannya, beberapa saat kemudian aku melanjutkan ke tempat kerjaku, karena jam sudah menunjukkan pukul 07.40 dan aku juga harus tiba di sana sekitar pukul 08.30. Segera kulajukan mobilku. Selama dalam perjalanan, aku masih saja kepikiran tentang rencanaku nanti, apakah akan berhasil atau tidak? Apakah berantakan atau seperti apa? “Ahhh... Sudahlah, aku hanya bisa berusaha semaksimal yang aku bisa, dan biarkan Tuhan yang menentukan semuanya nanti.”Perasaan dan hatiku terus bergemuruh terngiang rencana itu.
♥♥♥
Kisah ini bagian dari ebook "Galau: Unrequited Love".