SUASANA kos yang aku tempati terlihat biasa saja, sama seperti kos-kos yang lain. Hanya saja, memang hanya aku sendiri yang kos di sini. Sebenarnya, aku sangat tidak suka dengan suasana kos yang sepi. Aku ingin punya teman kos yang bisa diajak berbincang-bincang agar tak kesepian. Kalau sepi seperti ini sama saja dengan mengasingkan diri. Aku sempat bertanya ke Ibu Kos kenapa tak ada yang kos di tempat ini.
“Ini tadinya banyak Mbak, tapi memang sudah lulus semua, jadinya ya sepi, biasalah baru wisuda. Nanti juga ramai lagi,” begitu katanya. Aku hanya bisa tersenyum miris, membayangkan hidupku akan terasa benar-benar sepi di tempat ini.
“Tenang saja Mbak, anak saya nanti juga tinggal di sini sama keluarganya. Jadi nanti ada yang nemenin,” lanjutnya. Agak sedikit lega sebenarnya karena aku tak benar-benar sendiri.
Memang benar kata Ibu kos, anak dan keluarga anaknya ternyata juga tinggal di kos yang kutempati. Anak Ibu Kos beserta istri dan kedua anaknya memang cukup meramaikan suasana. Tapi, tetap saja aku tak merasa senang karena tak ada teman yang enak diajak berbincang. Andai saja ada teman sekampusku yang juga kos di tempat ini.
“Ini tadinya banyak Mbak, tapi memang sudah lulus semua, jadinya ya sepi, biasalah baru wisuda. Nanti juga ramai lagi,” begitu katanya. Aku hanya bisa tersenyum miris, membayangkan hidupku akan terasa benar-benar sepi di tempat ini.
“Tenang saja Mbak, anak saya nanti juga tinggal di sini sama keluarganya. Jadi nanti ada yang nemenin,” lanjutnya. Agak sedikit lega sebenarnya karena aku tak benar-benar sendiri.
Memang benar kata Ibu kos, anak dan keluarga anaknya ternyata juga tinggal di kos yang kutempati. Anak Ibu Kos beserta istri dan kedua anaknya memang cukup meramaikan suasana. Tapi, tetap saja aku tak merasa senang karena tak ada teman yang enak diajak berbincang. Andai saja ada teman sekampusku yang juga kos di tempat ini.
***
Oleh: Roma DP